Sabtu, 19 November 2016

STRESS CEMAS dan DEPRESI

MANAJEMEN STRESS, CEMAS, DAN DEPRESI

1.                  PENGERTIAN STRESS
yang dimaksud dengan stres (hans Selye, 1950) adalah tubuh yang sifatnya non spesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya. Misalnya bagaimana respons tubuh seseorang manakala yang bersangkutan mengalami beban pekerjaan yang berlebihan. Bila ia sanggup mengatasinya artinya tidak ada gangguan pada fungsi organ tubuh, maka dikatakan yang bersangkutan tidak mengalami stres. Tetapi sebaliknya bila ternyata ia mengalami gangguan pada satu atau lebih organ tubuh sehingga yang bersangkutan tidak lagi dapat menjalankan fungsi pekerjaannya dengan bail, maka ia mengalami distres.
 
TAHAPAN STRESS
Gejala-gejala stres pada diri seseorang seringkali tidak disadari karena perjalanan awal tahapan stres timbul secara lambat. Dan, baru dirasakan bilamana tahapan gejala sudah lanjut dan mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari baik di rumah, di tempat kerja ataupun di pergaulan lingkungan sosialnya. Dr. Robert J. Van (1979) dalam penelitiannya membagi tahapan-tahapan stres sebagai berikut :

Stres tahap I
Tahapan ini merupakan tahapan stres yang paling ringan, dan biasanya disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut :
a.       Semangat bekerja besar, berlebihan (over acting)
b.      Penglihatan “tajam” tidak sebagaimana biasanya
c.       Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya; namun tanpa disadari cadangan energi dihabiskan (all out) disertai rasa gugup yang berlebihan pula
d.      Merasa senang dengan pekerjaannya itu dan semakin bertambah semangat, namun tanpa disadari cadangan energi semakin menipis.

Stres tahap II
Dalam tahapan ini dampak stres yang semula “menyenangkan” sebagaiman diuraikan pada tahap I di atas mulai menghilang, dan timbul keluha-keluhan yang disebabkan karena cadangan energi tidak lagi cukup sepanjang hari karena tidak cukup waktu untuk beristirahat. Istirahat antara lain dengan tidur yang cukup dan bermanfaat untuk mengisi atau memulihkan cadangan energi yang mengalami defisit. Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang yang berada pada stres tahap II adalah sebagai berikut :
a.       Merasa letih sewaktu bangun pagi, yang seharusnya merasa segar
b.      Merasa mudah lelah sesudah makan siang
c.       Lekas merasa capai menjelang sore hari
d.      Sering mengeluh lambung atau perut tidak nyaman (bowel discomfort)
e.       Detakan jantung lebih keras dari biasanya (berdebar-debar)
f.       Otot punggung dan tengkuk terasa tegang
g.      Tidak bisa santai

Stres tahap III
Bila seseorang itu tetap memaksakan diri dalam pekerjaannya tanpa menghiraukan keluhan-keluhan sebagaimana diuraikan pada stres tahap II tersebut diatas, maka yang bersangkutan akan menunjukkan keluhan-keluhan yang semakin nyata dan mengganggu yaitu :
a.       Gangguan lambung dan usus semakin nyata; misalnya keluhan “maag” (gastri), buang air besar tidak teratur (diare)
b.      Ketegangan otot-otot semakin terasa
c.       Perasaan ketidak-tenangan dan ketegangan emosional semakin meningkat
d.   Gangguan pola tidur (insomnia), misalnya sukar untuk mulai masuk tidur (early insomnia), atau terbangun tengah malam dan sukar kembali tidur (middle insomnia), atau bangun terlalu pagi/dini hari dan tidak dapat kembali tidur (late insomnia)
e.       Koordinasi tubuh terganggu.

Pada tahapan ini seseorang sudah harus berkonsultasi pada dokter untuk memperoleh terapi, atau bisa juga beban stres hendaknya dikurangi dan tubuh memperoleh kesempatan untuk beristirahat guna menambah suplai energi yang mengalami defisit.

Stres tahap IV
Tidak jarang seseorang pada waktu memerikasa diri ke dokter sehubungan dengan keluhan-keluhan stres pada tahap III diatas, oleh dokter dinyatakan tidak sakit karena tidak tidak di temukan kelainan-kelainan fisik pada organ tubuhnya. Bila hal ini teradi dan yang bersangkutan terus memaksakan diri untuk bekerja tanpa mengenal  istirahat, maka gejala stres tahap IV akan muncul :
a.       Untuk bertahan sepanjang hari saja sudah terasa amat sulit
b.      Aktivitas pekerjaan yang semula menyenangkan dan mudah diselesaikan menjadi membosankan dan terasa lebih sulit
c.  Yang semula tanggap terhadap situasi menjadi kehilangan kemampuan untuk merespon secara memadai
d.      Ketidakmampuan untuk melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari
e.       Gangguan pola tidur disertai dengan mimpi-mimpi yang menegangkan
f.       Seringkali menolak ajakan (negativism) karena tiada semangat dan kegairahan
g.      Daya konsentrasi dan daya ingat menurun
h.      Timbul perasan ketakutan dan kecemasan yang tidak dapat dielaskan apa penyebabnya.

Stres tahap V
Bila keadaan berlanjut, maka seseorang itu akan jatuh dalam stres tahap V yang ditandai dengan hal-hal berikut :
a.       Kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam (physical and psychological exhaustion)
b.      Ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang ringan dan sederhana
c.       Gangguan sistem pencernaan semakin berat
d.      Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang semakin meningkat, mudah bingung dan panik.

Stres tahap VI
Tahapan ini merupakan tahapan klimaks, seseorang mengalami serangan panik (panic attack) dan perasaan takut mati. Tidak jarang orang yang mengalami stres tahap VI ini berulang kali dibawa ke unit gawat darurat bahakn ke ICCU, meskipun pada akhirnya dipulangkan karena tidak ditemukan kelainan fisik organ tubuh. Gambaran stres tahap VI ini adalah sebagai berikut :

b.      Susah bernafas (sasak dan mefap-megap)
c.       Sekujur badan terasa gemetar, dingin dan keringat bercucuran
d.      Ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang ringan
e.       Pingsan atau kolaps (collapse)

Bila dikaji maka keluhan atau gejala-gejala sebagaimana digambarkan diatas lebih didominasi oleh keluhan-keluhan fisik yang disebabkan oleh gangguan faal (fungsional) organ tubuh sebagai akibat stresor psikososial yang melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya.

GEJALA STRESS
1.      Fisik, yaitu sulit tidur, sakit kepala, sulit buang air besar, adanya gangguan pencernaan, radang usus, kulit gatal-gatal
2.      Emosional, yaitu marah. Mudah tersinggung, terlalu sensitif, gelisah dan cemas, sedih, mudah menangis
3.      Intelektual, yaitu mudah lupa, kacau pikirannya, daya ingat menurun, sulit berkonsentrasi, suka melamun.
4.      Interpersonal, yaitu acuh, kurang percaya kepada orang lain, sering mengingkari janji, suka mencari kesalahan orang lain.

Faktor yang Mempengaruhi Stres
1.      Faktor lingkungan
Keadaan lingkungan yang tidak menetu akan dapat menyebabkan pengaruh pembentukan struktur organisasi yang tidak sehat.
2.      Faktor Organisasi
Beberapa faktor dalam organisasi yang menyebabkan stres, role demads, interpersonal demads, organizational structure, organizational leadership.
3.      Faktor Individu
Faktor yang terkait dalam hal ini muncul dari dalam keluarga, masalah ekonomi pribadi, dan karakteristik pribadi pada keturunan.

Reaksi Tubuh Terhadap Stres
Seseorang yang mengalami stres dapat pula dilihat ataupun dirasakan dari perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Misalnya antara lain :
a.       Rambut
Warna rambut yang semula hitam pekat, lambat laun mengalami perubahan warna menjadi kecoklat-coklatan serta kusam, mengalami kerontakan dan memutih sebelum waktunya.
b.      Mata
Ketajaman mata seringkali terganggu misalnya kalau membaca tidak jelas karena kabur. Hal ini disebabkan karena otot-otot bola mata mengalami kekenduran atau sebaliknya sehingga mempengaruhi fokus lensa mata.
c.       Telinga
Pendengaran seringkali terganggu dengan suara berdering (tinitus)
d.      Daya pikir
Kemampuan berpikir dan mengingat serta konsentrasi menurun. Orang menjadi pelupa dan seringkali mengeluh sakit kepala atau pusing.
e.       Ekspresi wajah
Wajah seseorang yang stres nampak tegang dahi berkerut, mimik nampak serius, tidak santai, bicara berat, sukar untuk senyum/tewrtawa dan kulit muka kedutan (tin facialis)
f.       Mulut
Mulut dan bibir terasa kering sehingga seseoramg sering minum. Selain daripada itu pada tenggorokan seolah-olah adaganjalan sehingga ia sukar menelan, hal ini disebabkan karena otot-otot lingkar ditengah mengalami spasme (muscle cramps) sehingga serasa “tercekik”
g.      Kulit
pada orang yang mengalami stres reaksi kulit ber,acam macam; pada kulit dari sebagian tubuh terasa panas atau dingin atau keringat berlebihan. Reaksi lain kelembapan kulit juga berubah, kulit menjadi kering. Selain daripada itu perubahan kulit lainnya adalah merupakan penyakit kulit, seperti munculnya eksim, urtikaria (biduran), gatal-gatal dan pada kulit muka seringkali timbul jerawat (acne) berlebihan juga sering dijumpai kedua belah telapak tangan dan kaki berkeringat (basah).
h.      Sistem pernafasan
Pernafasan sesorang yang sedang mengalami stres dapat terganggu misalnya nafas terasa berat dan sesak disebabkan terjadi penyempitan pada saluran pernafasan mulai dari hidung, tenggorokan dan otot-otot rongga dada (otot-otot antar tulang iga) mengalami spasme dan tidak atau kurang elastis sebagaimana biasa nya. Sehingga ia harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menarik nafas. Stres juga dapat memicu timbulnya penyakit asma (astha bronciale) disebabkan karena otot-otot pada saluran nafas paru paru juga mengalami spasme.

CARA MENGATASI STRESS
1.      Istirahat dan tidur
2.      Olahraga atau latihan teratur (meningkatkan daya tahan dan kekebalan fisik maupun mental)
3.      Berhenti merokok
4.      Tidak mengkonsumsi minuman keras
5.      Terapi psikoreligius

1.                  PENGERTIAN CEMAS
Kecemasan merupakan hal yang normal terjadi pada setiap individu, reaksi umum terhadap stress terkadang dengan disertai kemunculan kecemasan. Namun kecemasan itu dikatakan menyimpang bila individu tidak dapat meredam (meresepsikan) rasa cemas tersebut dalam situasi dimana kebanyak orang mampu menanganinya tanpa adanya kesulitan yang berarti.
Kecemasan (ansietas/anxiely) adalah gangguan alam perasaan (affective) yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran  yang  mendalam dan berkelanjutan, tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas (reality testing ability/RTA, masih baik), kepribadian masih tertap utuh (tidak menglami keretakan kepribadian/spilliting of personallity ), perilaku dapat terganggu tetapi masih dalam batas batas normal.
Gangguan kecemasan diperkirakan diidap 1 dari 10 orang. Tidak semua orang yang mengalami stresor psikososial akan menderita gangguan cemas, hal ini tergantung pada struktur kepribadiannya. Cemas lebih didominasi dari hasil  pola asuh orang tua, orang tua yang cenderung pencemas maka anak akan cemas. Namun hal tersebut bukan diturunkan dari genetika. Gangguan cemas yang terjadi secara terus menerus lebih dari 2 minggu, akan menimbulkan penderitaan.

GEJALA KLINIS GANGGUAN KECEMASAN
Setiap orang mempunyai reaksi yang berbeda terhadap stres tergantung pada kondisi masing-masing individu, beberapa simtom yang muncul tidaklah sama. Kadang beberapa diantara simtom tersebut tidak berpengaruh berat pada beberapa individu, lainnya sangat menggangu. Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh orang yang mengalami gangguan kecemasan antara lain sebagai berikut :
1.      Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri, mudah tersinggung.
2.      Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut
3.      Takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang
4.      Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan
5.      Gangguan konsentrasi dan daya ingat
6.      Keluhan-keluhan somatik, misalnya rasa sakit pada otot dan tulang, pendengaran berdering (tinitus), berdebar-debar, sesak nafas, gangguan pencernaan, gangguan perkemihan, sakit kepala dan lain sebagainya.

KLASIFIKASI GANGGUAN AN ANXIETAS
1. GAM (gangguan anxietas menyeluruh)/GAD
Gangguan cemas menyeluruh merupakan kondisi gangguan yang ditandai dengan kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan dan tidak rasional bahkan terkadang tidak realistik terhadap berbagai peristiwa kehidupan sehari-hari.

Gangguan anxietas menyeluruh atau bisa disebut dengan penyakit jangan-jangan. Individu akan mengalami kecemasan yang berlebihan dengan berfikir jangan-jangan. Misalnya individu mengalami sakit kepala karenan ia akan flue tetapi ia berfikir bahwa jangan-jangan saya mempunyai penyakit kanker otak. Rasa khawatir yang berlebihan terhadap sesuatu hal akan menimbulkan penderitaan. Kondisi ini dialami hampir sepanjang hari, berlangsung 6 bulan.

2. Gangguan Panik (panic attack)
Gejala klinis gangguan panik ini yaitu kecemasan yang datangnya mendadak disertai oleh perasaan takut mati, disebut juga sebagai serangan panik (panic attack). Penyakit ini hampir sama dengan penyakit sakit jantung. Seseringkali pasien dibawa ke rumah sakit bagian Unit Gawat Darurat (UGD), dan seringkali pula dipulangkan karena tidak ditemukan kelainan fisik yang dapat menyebabkan kematian. tidak jarang dalam satu 2 sampai 3 kali timbul serangan panik, kemudian dibawa lagi ke UGD dan dipulangkan (berulang kali). Meskipun dokter UGD mengatakan bahwa yang bersangkutan tidak sakit, ia tidak percaya; dan seharusnya dokter UGD merujuk pada dokter ahli jiwa (psikoater), seraya mengatakan bahwa apa yang dialaminya itu bukanlah “serangan jantung” yang akan membawa pada kematian, melainkan serangan panik sebagai gejala gangguan kecemasan yang berlebihan.

3.  Gangguan phobik
Gangguan phobik adalah salah satu bentuk kecemnasan yang didominasi oleh gangguan alam pikir phobia. Phobia adalah ketakutan yang menetap dan tidak rasional terhadap suatu obyek, aktivitas atau situasi teretentu (spesifik), yang menimbulkan suatu keinginan mendesak untuk menghindarinya. Rasa ketakutan itu disadari oleh orang yang bersangkutan sebagai suatu ketakutan yang berlebihan dan tidak masuk akal, namun ia tidak mampu mengatasinya.

Gangguan phobia yang sering dijumpai dalam pengalaman sehari-hari adalah sebagai berikut :
        1.          Agoraphobia
Seseorang yang menderita agoraphobia mempunyai ketakutan yang hebat (dan karena itu ia menghindari) terhadap situasi berada seorang diri atau di tempat umum, dimana ia sulit untuk melarikan diri, atau ditempat yang tidak tersedia pertolongan apabila datang serangan mendadak berupa perasaan tak berdaya, misalnya berada di antara orang banyak, dalam terowongan, diatas jembatan atau menumpang kendaraan umum.

Dampak dari gangguan ini adalah aktivitas kehidupan sehari-harinya amat tergantung, ruang lingkup geraknya semakin menyempit, sehingga akhirnya ketakutan atau perilaku menghindar itu menguasai dirinya. Tidak jarang kalaupun ia harus pergi ke luar, orang yang menderita agoraphobia terpaksa membawa orang lain untuk mengawaldirinya guna berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu yang mendadak.

             2.     Phobia Sosial
Seseorang yang menderita phobia sosial mempunyai rasa takut yang menetap dan tidak rasional terhadap situasi sosial tertentu dan berusaha sekuat tenaga untuk menghindarinya. Ia merasa cemas karena mungkin dinilai atau menjadi pusat perhatian orang lain. ia merasa takut bahwa ia akan bereaksi dengan cara yang akan memalukan dirinya. Gangguan tersebut sudah barang tentu merupakan penderitaan berat bagi dirinya, karena ia merasa terisolasi dari pergaulan sosial.

Dari sudut psikologi dapat disebutkan bahwa gangguan phobia adalah suatu mekanisme defensif dalam upaya seseorang untuk mengatasi kecemasannya. Mekanisme defensif tersebut dilakukan dengan jalan mengalihkan (displacement) pada ide, obyek, atau situasi tertentu yang bertindak sebagai simbol dari konflik atau psikotrauma masa lalu.

4.               Gangguan obsesif-kompulsif
Obsesi adalah suatu bentuk kecemasan yang didominasi oleh pikiran yang terpaku (persitence) dan berulang kali muncul (recurrent). Sedangkan kompulsi adalah perbuatan yang dilakukan berulang-ulang sebagai konsekuensi dari pikiran yang bercorak obsesif tadi. Seseorang yang menderita gangguan obsesif-kompulsif tadi akan terganggu dalam fungsi atau peranan sosialnya.

Sebagai contoh yang sederhana misalnya orang yang mencuci tangannya berkali-kali (repeated hand washing), meskipun sebenarnya ia sadar bahwa mencuci tangan pertama kali kembali. Namun, ia tidak mampu menguasai pikiran obsesif yang menyatakan bahwa tangannya belum bersih, dan karenanya untuk menghilangkan rasa cemasnya itu ia mengulang kembali mencuci tangan.

5.           Post Traumatik-Stress Disorder (PTSD/ Gangguan Stress Pasca Trauma)
PTSD merupakan kecemasan akibat peristiwa traumatik yang biasanya dialami oleh veteran perang atau orang-orang yang mengalami bencana alam. PTSD biasnya muncul beberapa tahun setelah kejadian dan biasanya diawali dengan ASD, jika lebih dari 6 bulan maka orang tersebut dapat mengembangkan PTSD.
Gangguan pasca trauma dapat akut, kronis atau lambat, trauma akibat orang, perang, serangan fisik atau penganiayaan berlangsung lebih lama daripada trauma setelah bencana alam. Simtom memburuk jika dihadapkan kepada situasi yang mirip. Dapat terjadi pada anak dan orang dewasa. Simtom pada anak: mimpi tentang monster atau perubahan tingkah laku. Riwayat psikopatologi pada keluarga memegang peranan penting

PENDEKATAN PENANGANAN ANXIETAS

1.      Pendekatan biologis
Pendekatan ini biasanya menggunakan variasi obat-obatan untuk mengobati gangguan kecemasan. Diantaranya golongan benzodiazepine, valium dan xanax (alprazolam). Mesikipun benzodiazepine mempunyai efek menenangkan, tetapi dapat mengakibatkan depensi fisik. Pemberian obat yang lebih 2 minggu dapat mengakibatkan ketergangtungan.

2.      Pendekatan psikodinamika
Dari perspektif psikodinamika, kecemasan merefleksikan energi yang dilekatkan kepada konflik-konflik tak sadar dan usaha ego untuk membiarkannya tetap terepresi. Psikoanalisis tradisional menyadarkan bahwa kecemasan klien merupakan simbolisasi dari konflik dalam diri mereka. Dengan adanya simbolisasi ini ego dapat dibebaskan dari menghabiskan energi untuk melakukan represi. Dengan demikian ego dapat memberi perhatian lebih terhadap tugas-tugas yang lebih kreatif dan memberi peningkatan. Begitu juga dengan yang modern, akan tetapi yang modern lebih menjajaki sumber kecemasan yang berasal dari keadaaan hubungan sekarang daripada hubungan masa lampau. Selain itu mereka mendorong klien untuk mengembangkan tingkah laku yang lebih adaptif.

3.      Pendekatan Belajar
Efektifitas penanganan kecemasan dengan pendekatan belajar telah banyak dibenarkan oleh beberapa riset. Inti dari pendekatan belajar adalah usaha untuk membantu individu menjadi lebih efektif dalam menghadapi situasi yang menjadi penyebab munculnya kecemasan tersebut.


PENGERTIAN DEPRESI
Depresi adalah gangguan alam perasaan (mood) yang ditandai dengan kemurungan dan kesedihan yang mendalam dan berkelanjutan sehingga hilangnya kegairahan hidup, tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas, kepribadian tetap utuh perilaku dapat terganggu tetapi dalam batas-batas normal.
Orang yang mengalami depresi penyebab utama tindakan bunuh diri, dan tindakan ini menduduki urutan ke-6 dari penyebab kematian utama dui amerika serikat.

PENYEBAB DEPRESI
a.       Usia harapan hidup semakin bertambah
b.      Stresor psikososial semakin berat
c.       Berbagai penyakit krinik semakin bertambah
d.      Kehidupan beragama semakin ditinggalkan.

GEJALA KLINIS DEPRESI
Depresi adalah salah satu bentuk gangguan kejiwaan pada alam perasaan, yang ditandai dengan kemurungan, kelesuan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa dan lain sebagainya. Secara lengkap gejal klinis depresi adalah sebagai berikut :
a.       Afek disforik, yaitu perasaan murung, sedih, gairah hidup menurun, tidak semangat, merasa tidak berdaya
b.      Perasaan bersalah, berdosa, penyesalan
c.       Nafsu makan menurun
d.      Berat badan menurun
e.       Konsentrasi dan daya ingat menurun
f.       Gangguan tidur : insomnia (sukar/tidak dapat tidur) atau sebaliknya hipersomnia (terlalu banyak tidur). Gangguan ini sering kali ditandai dengan mimpi-mimpi yang tidak menyenangkan, misalnya mimpi orang yang telah meninggal
g.      Agitasi atau retardasi paikomotor (gaduh gelisah atau lemah tak berdaya)